Header Ads

Beda Sandi, Beda Erick


Politik tidak seperti permainan sepak bola, ketika pertandingan usai dan ditentukan siapa pemenangnya maka selesailah pertandingan bola. Kalimat di atas cuplikan pidato Anies Baswedan saat event Partai Gerindra di Sentul, Jawa Barat.

Saya menduga kalimat di atas bukan hanya sekadar perumpaan, tapi ada makna sindiran Anies kepada Erick Tohir. Seorang politisi yang cerdas memang selalu menggunakan bahasa yang mutlitafsir, berbeda dengan dagang harus jelas perkataanya.

Kita tahu, Erick Tohir adalah bos salah satu club sepak bola. Dan rupanya gaya permainan sepak bola mendarah daging pada diri Erick Tohir sehingga iapun adopsi dalam politik.

Sebagai Ketua Tim Pemenangan Nasional Jokowi - Maruf, pasti Erick dituntut bisa berperan lebih ketimbang hanya sebagai penonton. Untuk apa rekrut Erick kalau tak memberikan efek positif, kira - kira begitu asumsi tim Jokowi - Ma'ruf.

Erick kalah cepat larinya dengan Sandiaga Uno. Jika Sandi sudah terjun langsung sebagai pemain, Erick sampai sekarang masih menjadi penonton. Namanya penonton pasti beda dengan pemain.

Penonton biasanya sorak - sorak ketika pemainnya yang didukung terdesak. Terkadang juga melontarkan cacian dan menyerang pribadi. Belakangan Erick pun mulai melancarkan serangan terhadap Sandi dan Prabowo.

Sayang, serangan disaat situasi terdesak lebih besar emosinya ketimbang rasionya. Serangannya pun tidak pakai cengkokan kalau dalam dunia dangdut, langsung to the pont, jelas ini bukan gaya politisi.

Berbeda dengan Sandi, ia menyerang tapi dengan sindiran. Dan hanya orang yang paham dan merasa peluru sindiran itu yang terluka, yang lainnya tidak!.

Serangan dalam politik itu biasa, yang membedakan adalah cara menyerangnya. Erick seperti bingung harus menggunakan serangan seperti apa,Hampir beberapa bulan ia terlihat tak bersuara, dan baru belakangan ia bersuara.

Sandi pun langsung meladeni serangan sahabatnya itu. Sebagai sahabat, Sandi pasti tahu "rahasia" serangan Erick dan dia juga pasti tahu cara maladeninya. Tangkisan demi tangkisan Sandi lakukan. Disinilah hebatnya Sandi, ia tak mengeluarkan peluru saat diserang, tapi ia hanya mengguankan strategi menangkis serangan.

Sandi tetap bertahan di pos yang ia tempati selama ini, yaitu bicara ekonomi, umkm dan bisnis. Karena inilah yang justru mengunci kubu lawan.

Jika sampai kunci ini jebol maka akan mudah bagi lawan untuk memporak porandakan sistem dan share job Sandi dengan Prabowo. Biarlah urusan gempur menggempur dan serang menyerang menjadi bagian Prabowo.

Secara psikologis dan pengalaman, Prabowo jelas lebih terampil untuk urusan serang menyerang. Pengalaman sebagai Cawapres dan Capres RI beberapa tahun lalu cukup menjadi modal Prabowo bagaimana menyerang, kapan menyerang dan kapan bertahan dari serangan.

Kembali ke Erick dan Sandi. Mau diakui atau tidak, Erick pasti bingung dengan situasi seperti sekarang ini. Mau "jualan" janji Jokowi 2014 jelas tidak menguntungkan, mau masuk ke miliineal jelas Sandi lebih banyak punya gaya, mau serang partai koalisi Erick tak punya pengalaman bagiamana melakukan serangan politik.

Jadi, memang berbeda antara permainan sepak bola dengan politik. Memang berbeda antara menjadi pemain dengan pelaku politik. Dan memang berbeda antara mengelola tim event olahraga dengan tim politik.
Diberdayakan oleh Blogger.